ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN Ca. SERVIKS
Dosen : Yunita Kristina
S.kep., M.Kes
Disusun oleh :
CHRISTIN SALAKORY NIM 0131040016
MERRY A.WAROI NIM 01310400
RENNY N.KABEY NIM 0131040075
ROSALINA GOMBO NIM 01310400
SONIA WATOPA NIM 0131040083
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
karunia-Nya maka kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Asuhan Keprawatan Klien dengan Ca.Serviks”.
Adapun
penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan mata kuliah
Sistem Reproduksi. Dalam penulisan makalah ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam
menyelesaikan makalah ini, makalah ini disusun sebagai bagian dari
penyempurnaan pembelajaran. Dengan demikian dipandang perlu mengkaji dan
menelaah tentang materi yang dipaparkan dalam makalah, namun dengan segala
keterbatasan penulis hanya dapat menjelaskan dengan paparan yang kurang
sempurna.
Penulis berharap
makalah ini dapat dijadikan salah satu bahan bacaan untuk menggali pengetahuan
agar lebih luas.
Jayapura, 3 Maret 2016
Tim Penyusun
Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks)
adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks (bagian terendah
dari rahim yang menempel pada puncak vagina. Kanker serviks biasanya menyerang
wanita berusia 35-55 tahun, kendati begitu penyakit ini dapat ditemukan pada
usia lebih muda 20 – 29 tahun, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Sandra Van Loon di RSHS pada tahun 1996 bahwa wanita penderita kanker serviks
yang dirawat masih berusia muda saat kawin pertama kali antara usia 15 – 19
tahun (Hilman, 2005). 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang
melapisi serviks dan 10% sisanya berasal
dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke
dalam rahim. Ca Cerviks merupakan pertumbuhan dari suatu kelompok sel yang
tidak normal pada serviks yang disebabkan oleh Human Papilloma Virus
(GlaxoSmithKline, 2007).
Kanker Serviks atau kanker leher rahim
merupakan salah satu penyakit yang paling banyak terjadi bagi wanita. Kanker
Serviks sering juga disebut dengan kanker mulut rahim. Kanker Serviks merupakan
penyakit kanker kedua terbanyak yang dialami oleh wanita di seluruh dunia. Menurut International Agency for Research on
Cancer (IARC), 85% dari kasus kanker di dunia, yang berjumlah sekitar 493.000
dengan 273.000 kematian, terjadi di Negara-negara berkembang. Di Indonesia
pengidap Ca Cervix adalah terbanyak
diantara pengidap kanker lainnya, bahkan di seluruh dunia adalah nomer kedua
setelah Cina (FK UGM, 2010).
Berdasarkan penelitian di Jakarta,
Semarang, Jogjakarta, dan Surabaya ternyata kanker leher rahim juga menduduki
urutan dengan proporsi 25 – 45 % penderita melebihi kanker payudara yang baru
mencapai 10 – 20 %. Menurut perkiraan Departemen Kesehatan RI adalah 100 per
100.000 penduduk. Untuk Jakarta sebanyak 7.000 penderita dan kira-kira
seperlimanya adalah penderita kanker leher rahim (Tara, 2001). Begitu pula data
penderita kanker serviks yang dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik
(RSUP HAM) Medan didapat rata-rata 120 orang penderita kanker serviks yang
dirawat perbulan (Laporan Ruangan Rindu B 1 Obgin, 2012).
Wanita yang terkena kanker serviks
biasanya menyerang di usia 35 – 55 tahun. Pada stadium dini, kanker serviks
tidak begitu menimbulkan masalah atau keluhan. Penderita kanker serviks
biasanya datang setelah kanker berada pada stadium lanjut dan karena adanya
keluhan-keluhan yang dirasakan penderita seperti terjadinya perdarahan setelah
berhubungan seksual, perdarahan spontan pada masa menopouse, timbulnya
keputihan yang banyak dan bercampur dengan darah serta berbau, nyeri panggul,
nyeri saat berhubungan seksual dan kesulitan untuk buang air kecil serta nafsu
makan juga menurun (Karolina, 2010). Hal ini membuat penderita mengalami
perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menimbulkan berbagai keluhan baik
fisik maupun psikologis dan akan
mempengaruhi kualitas hidupnya (Rebecca dan Pam, 2007). Faktor-faktor
yang mempengaruhi kualitas hidup menurut para ahli dalam kutipan Sekarwiri
(2008) adalah jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan,
penghasilan, dan hubungan dengan orang lain.
Diharapkan sikap dan tingkah laku
profesional di tuntut dari seorang perawat dalam melaksanakan asuhan
keperawatan serta belajar aktif dan mandiri pada pengalaman praktik klinik dapat
dicapai dengan presentasi kasus. Penerapan proses asuhan keperawatan secara
komprehensif sebagai bentuk pelayanan keperawatan profesional baik kepada
individu maupun keluarga.
Kegiatan-kegiatan keperawatan secara
efektif dan efisien dalam pelayanan keperawatan dengan selalu meningkatkan
pengelolaan pelayanan keperawatan.Asuhan keperawatan pada klien dengan kanker
serviks diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup klien dan meminimalkan
dampak negatif yang timbul, seperti : stres psikologis yang sangat mempengaruhi
kondisi kesehatan klien. Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus
melibatkan peran serta aktif seluruh keluarga dalam merumuskan masalah dalam
mengatasi masalah kesehatannya.
1. Bagaimana Konsep Dasar Ca.
Serviks ?
2. Bagaimana Asuhan Keperawatan
pada klien dengan Ca. Serviks ?
1. Mengetahui dan
mengidentifikasi Konsep Dasar Ca. Serviks.
2. Mengetahui dan
mengidentifikasi Asuhan Keperawatan pada klien dengan Ca. Serviks.
Kanker adalah istilah umum yang mencakup setiap
pertumbuhan maligna dalam setiap bagian tubuh, pertumbuhan ini tidak bertujuan,
bersifat parasit, dan berkembang dengan mengorbankan manusia sebagai hospesnya
(Hinchliff, 1999).
Kanker serviks
adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan epitel
serviks uteri (Price dan Wilson, 1995).
Kanker
serviks adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau serviks yang
terdapat pada bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina.
(Diananda,Rama,2009 )
Kanker
serviks merupakan gangguan pertumbuhan seluler dan merupakan kelompok penyakit
yang dimanifestasikan dengan gagalnya untuk mengontrol proliferasi dan maturasi
sel pada jaringan serviks. Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35
- 55 tahun, 90% dari kanker serviks berasal dari sel kelenjar penghasil lendir
pada saluran servikal yang menuju kedalam rahim.(Sarjadi, 2001)
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli penulis dapat
menyimpulkan bahwa kanker serviks adalah pertumbuhan sel yang abnormal yang
terdapat pada organ reproduksi wanita yaitu serviks atau bagian terendah dari
rahim yang menempel pada puncak vagina.
Anatomi alat
kandungan di bedakan menjadi 2 yaitu genetalia eksterna dan genetalia interna

( Sobatta,2006)
1. Genetalia eksterna
a. Monsveneris
Bagian yang menonjol bagian
simfisis yang terdiri dari jaringan lemak,daerah ini di tutup bulu pada masa
pubertas.
b. Vulva
Adalah tempat bermuara sistem urogenital.
Di sebelah luar vulva dilingkari oleh labia mayora (bibir besar) yang ke
belakang, menjadi satu dan membentuk kommisura posterior dan pereniam. Di bawah
kulitnya terdapat jaringan lemak seperti yang ada di mons veneris.
c. Labia mayora
Labia mayora ( bibir besar )
adalah dua lipatan besar yang membatasi vulva, terdiri atas kulit, jaringan
ikat, lemak dan kelenjar sebasca. Saat pubertas tumbuh rambut di mons veneris
dan pada sisi lateral.
d. Labia minora
Labia minora ( bibir kecil )
adalah dua lipatan kecil diantara labia mayora,dengan banyak kelenjar sebasea.
Celah diantara labia minora adalah vestibulum.
e. Vestibulum
Vestibulum merupakan rongga yang
berada diantara bibir kecil (labia minora), maka belakang di batasi oleh
klitoris dan perenium, dalam vestibulum terdapat muara – muara dari liang
senggama (introetus vagina uretra, kelenjar bartholimi dan kelenjar skene kiri
dan kanan).
f. Himen (selaput
dara)
Lapisan tipis yang menutupi
sebagian besar liang senggama ditengahnya berlubang supaya kotoran menstruasi
dapat mengalir keluar, letaknya mulut vagina. Pada bagian ini bentuknya
berbedabeda ada yang seperti bulan sabit, konsistensi ada yang kaku dan yang lunak,
lubangnya ada seujung jari, ada yang dapat dim lalui satu jari.
g. Perenium
Terbentuk dari korpus perinium,
titik tentu otot-otot dasar panggul yang ditutupi oleh kulit perenium.

(Sobatta,2006)
2. Genetalia interna
a. Vagina
Tabung yang di lapisi
membran dari jenis-jenis epitelium bergaris, khusus dialiri banyak pembuluh
darah dan serabut saraf. Panjangnya dari vestibulum sampai uterus 7 ½ cm.
Merupakan penghubung antara introitus vagina dan uterus. Dinding depan liang
senggama (vagina) 9 cm, lebih pendek dari dinding belakang. Pada puncak vagina
sebelah dalam berlipat-lipat disebut rugae.
b. Uterus
Organ yang
tebal,berotot berbentuk buah pir,terletak di dalam pelvis antara rectum di
belakang dan kandung kemih di depan, ototnya disebut miometrium. Uterus
terapung di dalam pelvis dengan jaringan ikat dan ligament. Panjang uterus 7 ½ cm,
lebar ±5 cm, tebal ±2 cm. Berat 59 gr, dan berat 30-60 gr.
Uterus terdiri dari :
1) Fundus uteri
(dasar rahim )
Bagian uterus yang
terletak antara pangkal saluran telur. Pada pemeriksaan kahamilan, perabaan
fundus uteri dapat memperkirakan usia kehamilan.
2)
Korpus uteri
Bagian uterus yang
terbesar pada kehamilan,bagian ini berfungsi sebagai tempat janin berkembang.
Rongga yang terdapat pada korpus uteri di sebut kavum uteri atau rongga rahim.
3)
Servik uteri
Ujung servik yang
menuju puncak vagina disebut porsio,hubungan antara kavum uteri dan kanalis
servikalis disebut ostium uteri internum.
Lapisan-lapisan
uterus, meliputi :
1) Endometrium
2) Myometrium
3) Parametium
c. Ovarium
Merupakan kelenjar
berbentuk kenari, terletak kiri dan kanan uterus di bawah merupakan tuba
uterine dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum latum uterus.
d. Tuba fallopi
Tuba fallopi di
lapisi oleh epitel bersilia yang tersusun dalam banyak lipatan sehingga
memperlambat perjalanan ovum ke dalam uterus. Sebagian sel tuba mensekresikan
cairan serosa yang memberikan nutrisi pada ovum.Tuba fallopi disebut juga
saluran telur terdapat 2 saluran telur kiri dan kanan. Panjang kira-kira 12cm
tetapi tidak berjalan lurus. Terus pada ujung-ujungnya terdapat fimbria, untuk memeluk
ovum saat ovulasi agar masuk kedalam tuba. (Tambayong, 2002).
Kanker
serviks terjadi jika sel - sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara
tidak terkendali, jika sel - sel serviks terus membelah, maka akan terbentuk
suatu masa jaringan yang disebut tumor yang bisa bersifat jinak atau ganas,
jika tumor tersebut ganas maka keadaannya disebut kanker serviks.
Penyebab terjadinya
kelainan pada sel - sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat
beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks
yaitu :
1. HPV ( Human
Papiloma Virus )
HPV adalah virus
penyebab kutil genetalis ( Kandiloma Akuminata ) yang ditularkan melalui
hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16, 18.
a.
Timbulnya keganasan pada binatang yang diinduksi dengan virus papiloma.
b.
Dalam pengamatan terlihat adanya perkembangan menjadi karsinoma pada kondilom
akuminata.
c.
Pada penelitian 45 dan 56, keterlibatan HPV pada kejadian kanker dilandasi oleh
beberapa faktor yaitu: epidemiologic infeksi HPV ditemukan angka kejadian
kanker serviks yang meningkat.
d.
DNA HPV sering ditemukan pada Lis ( Lesi Intraepitel Serviks )
1. Merokok
Pada wanita perokok
konsentrasi nikotin pada getah servik 56 kali lebih tinggi dibandingkan didalam
serum, efek langsung bahan tersebut pada serviks adalah menurunkan status imun
lokal sehingga dapat menjadi kokarsinogen infeksi virus.
2. Hubungan seksual
pertama dilakukan pada usia dini ( kurang dari 18 tahun).
3. Berganti - ganti
pasangan seksual.
4.
Suami atau pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual pertama pada usia 18
tahun, berganti-berganti pasangan dan
pernah menikah dengan wanita yang menderita kanker serviks.
5. Pemakaian DES (
Diethilstilbestrol ) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran.
6. Pemakaian Pil KB.
Kontrasepsi oral yang
dipakai dalam jangka panjang yaitu lebih dari lima tahun dapat meningkatkan
resiko relatif 1,53 kali. WHO melaporkan resiko relative pada pemakaian
kontrasepsi oral sebesar 1,19 kali dan meningkat sesuai dengan lamanya
pemakaian.
7. Infeksi herpes
genitalis atau infeksi klamedia menahun.
8. Golongan ekonomi
lemah.
Dikaitkan dengan
ketidakmampuan dalam melakukan tes pap smear secara rutin dan pendidikan yang
rendah. ( Dr imam Rasjidi, 2010 )
Dari beberapa faktor
yang menyebabkan timbulnya kanker sehingga menimbulkan gejala atau semacam
keluhan dan kemudian sel - sel yang mengalami mutasi dapat berkembang menjadi
sel displasia. Apabila sel karsinoma telah mendesak pada jaringan syaraf akan timbul
masalah keperawatan nyeri. Pada stadium tertentu sel karsinoma dapat mengganggu
kerja sistem urinaria menyebabkan hidroureter atau hidronefrosis yang menimbulkan
masalah keperawatan resiko penyebaran infeksi. Keputihan yang berkelebihan dan
berbau busuk biasanya menjadi keluhan juga, karena mengganggu pola seksual
pasien dan dapat diambil masalah keperawatan gangguan pola seksual. Gejala dari
kanker serviks stadium lanjut diantaranya anemia hipovolemik yang menyebabkan
kelemahan dan kelelahan sehingga timbul masalah keperawatan gangguan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh. Pada pengobatan kanker leher rahim sendiri akan
mengalami beberapa efek samping antara lain mual, muntah, sulit menelan, bagi
saluran pencernaan terjadi diare gastritis, sulit membuka mulut, sariawan,
penurunan nafsu makan ( biasa terdapat pada terapi eksternal radiasi ). Efek
samping tersebut menimbulkan masalah keperawatan yaitu nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh. Sedangkan efek dari radiasi bagi kulit yaitu menyebabkan kulit
merah dan kering sehingga akan timbul masalah keperawatan resiko tinggi kerusakan
integritas kulit. Semua tadi akan berdampak buruk bagi tubuh yang menyebabkan
kelemahan atau kelemahan sehingga daya tahan tubuh berkurang dan resiko injury
pun akan muncul. Tidak sedikit pula pasien dengan diagnosa positif kanker leher
rahim ini merasa cemas akan penyakit yang dideritanya. Kecemasan tersebut bisa dikarenakan
dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, ancaman status kesehatan dan
mitos dimasyarakat bahwa kanker tidak dapat diobati dan selalu dihubungkan
dengan kematian. (Price, syivia Anderson, 2005)

1. Keputihan yang makin lama makin
berbau akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
2. Perdarahan yang dialami segera
setelah senggama ( 75% - 80% ).
3. Perdarahan yang terjadi diluar
senggama.
4. Perdarahan spontan saat defekasi.
5. Perdarahan diantara haid.
6. Rasa berat dibawah dan rasa kering
divagina.
7. Anemia akibat pendarahan berulang.
8. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel
tumor ke serabut syaraf. (Dr RamaDiananda, 2009 )
Klasifikasi internasional tentang
karsinoma serviks uteri : Tingkat kriteria
Tahap O : Kanker insitu, kanker terbatas
pada lapisan epitel, tidak terdapat
bukti invasi.
Tahap I :
Karsinoma yang benar - benar berada dalam serviks. Proses terbatas pada serviks
walaupun ada perluasan ke korpus uteri.
Tahap Ia :
Karsinoma mikroinvasif, bila membran basalis sudah rusak dan sel tumor sudah
memasuki stoma lebih dari 1 mm, sel tumor tidak terdapat pada pembuluh limfa
atau pembuluh darah.
Tahap Ib :
Secara klinis sudah diduga adanya tumor yang histologik menunjukkan invasi
serviks uteri.
Tahap II :
Kanker vagina, lesi telah menyebar diluar serviks hingga mengenai vagina (bukan
sepertiga bagian bawah ) atau area para servikal pada salah satu sisi atau
kedua sisi.
Tahap IIa :
Penyebarah hanya perluasan vagina, parametrium masih bebas dari infiltrate
tumor.
TahapIIb :
Penyebaran keparametrium, uni atau bilateral tetapi belum sampai pada dinding
panggul.
Tahap III :
Kanker mengenai sepertiga bagian bawah vagina atau telah meluas kesalah satu
atau kedua dinding panggul. Penyakit nodus limfe yang teraba tidak merata pada
dinding panggul. Urogram IV menunjukkan salah satu atau kedua ureter tersumbat
oleh tumor.
Tahap IIIa :
Penyebaran sampai pada sepertiga bagian distal vagina, sedang ke parametrium
tidak dipersoalkan.
Tahap IIIb :
Penyebaran sudah sampai pada dinding panggul, tidak ditemukan daerah bebas
infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul ( frozen pelvic ) atau proses
pada tingkatan klinik I dan II, tetapi sudah ada gangguan faal ginjal.
Tahap IV :
Proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rektum
dan atau kandang kemih (dibuktikan secara histologik ) atau telah terjadi
metastasis keluar paanggul atau ketempat - tempat yang jauh.
Tahap IVa :
Proses sudah keluar dari panggul kecil, atau sudah menginfiltrasi mukosa
rektrum dan atau kandung kemih.
Tahap IVb :
Telah terjadi penyebaran jauh. ( Dr Imam Rasjidi, 2010 )
1.
Penatalaksanaan Medis
Pengobatan
pada stadium awal, dapat dilakukan operasi sedangkan stadium lanjut hanya
dengan pengobatan dan penyinaran. Tolak ukur keberhasilan pengobatan yang biasa
digunakan adalah angka harapan hidup 5 tahun. Harapan hidup 5 tahun sangat
tergantung dari stadium atau derajatnya beberapa peneliti menyebutkan bahwa
angka harapan hidup untuk kanker leher rahim akan menurun dengan stadium yang
lebih lanjut. Pada penderita kanker leher rahim ini juga mendapatkan sitistatika
dalam ginekologi. Penggolongan obat sitostatika antara lain :
a.
Golongan yang terdiri atas obat - obatan yang mematikan semua sel pada siklus
termasuk obat - obatan non spesifik.
b.
Golongan obat - obatan yang memastikan pada fase tertentu darimana proliferasi
termasuk obat fase spesifik.
c.
Golongan obat yang merusak sel akan tetapi pengaruh proliferasi sel lebih
besar, termasuk obat - obatan siklus spesifik.
I.
Operasi
Operasi
untuk mengambil uterus biasa dilakukan unutk mnegatasi stadium dini dari kanker
serviks. Hysterectomy sederhana yaitu
dengan membuang jaringan kanker dalam stadium yang dini-invasi kurang dari 3 mm
ke dalam serviks. Hysterectomy radikal – membuang serviks, uterus, bagian
vagina dan nodus limfe pada area tersebut. – merupakan operasi standar dimana
terdapat invasi lebih besar dari 3 mm dan tidak ada bukti adanya tumor pada
dinding pelvis.Hyterectormy dapat mengobati kanker serviks stadium dini dan
mencegah kanker kembali lagi. Efek sampinr sementara dari Hysterectomy termasuk
nyeri pelvis, dan kesulitan dalam pencernaan dan urinasi.
II.
Radiasi
Terapi
radiasi dapat diberikan secara eksternal atau internal (branchytherapy) dengan
menempatkan alat radisasi diisi dengan material radioaktif yang akan
ditempatkan di serviks. Terapi radiasi sama efektifnya dengan operasi pada
kanker serviks stadium dini. Bagi wanita dengan kanker serviks lebih berat,
radiasi merupakan pelaksanaan terbaik. Kedua metode terapi radiasi ini dapat
dikombinasikan. Terapi radiasi dapat digunakan sendiri, dengan kemoterapi,
sebelum operasi unutk mengecilkan tumor atau setelah opersi untuk membunuh sel
kanker lainnya yang masih hidup. Efek samping dari radiasi terhadap area pelvis
termasuk nyeri lambung, nausea, diare, iritasi kandung kemih, dan penyempitan
vagina, dimana akan menyebabkan hubungan seks lebih sulit dilakukan. Wanita
premenopausal dapat berhenti menstruasi sebagai akibat dati terpai radiasi.
III.
Kemoterapi
Kemoterapi
dengan agen tunggal digunakan untuk menanganipasien dengan metastasis
extrapelvis sebagaimana juga digunakanpada tumor rekkuren yang sebelum telah
ditangani dengan operasi atau radiasi dan bukan merupakan calon exenterasi.
Ciptalin telah menjadi agen yang paling banyak diteliti dan telah
memperlihatkan respon klinis yang paling konsisiten. Walaupun ada beberapa
penelitian yang bervariasi, terapi ciptalin agen tunggal memberikan hasil
dengan respon sempurna pada 24 % kasus, dengan tambahan 16% dri terapi ini
memperlihatkan respon parsial. Ifosfamide, agen cyclophosphamide, telah memberikan
respon total hingga 29% pada pasien kanker serviks; namun efektivitas belum
dapat dikonfirmasi oleh semua peneliti. Efek samping kemoterapi tergantung dari
obat yang diberikan namun secara umum dapat menyebabkan diare, lelah, mual, dan
rambut rontok. Beberapa obat kemoterapi dapat mengakibatkan infertilitas dan
menopause dini pada wanita premenopause.
IV.
Kemoradiasi
Pemakaian
kemoradiasi. Kombinasi anatara kemoterapiasi telah diketahui secara luas
memberikan harapan hidup lebih tinggi dibandingkan pemberian radiasi saja pada
pengangganan kanker serviks. Kombinasi anatara kemoterapi dan terapi radiasi
berdasarkan teori dari pembunuhan sel sinergis – efek teraupetik dari dua modalitas
tersebut digunakan tidak bersamaan. Bila dikombinasikan dengan radiasi, penggunaan
mingguan ciptalin menguragi resiko progresi selama 2 tahun sebesar 43% (harapan
hidup 2 tahun=70%) untuk stadium IV A. pada keadaan ini, ciptalin sepertinya
bekerja sebagai radiosensitizier, dapat menurunkan kemungkinan dari rekurensi
lokal dan lebih mengurangi jumlah kejadian metestasis jauh.
2.
Penatalaksanaan Keperawatan
Dalam lingkar perawatan meliputi sebelum
pengobatan terapi radiasi eksternal anatara lain kuatkan penjelasan tentang
perawatan yang digunakan untuk prosedur. Selama terapi yaitu memilih kulit yang
baik dengan menganjurkan menghindari sabun, kosmetik, dan deodorant.
Pertahankan kedekuatan kulit dalam
perawatan post pengobatan antara lain hindari infeksi, laporkan tanda - tanda
infeksi, monitor intake cairan, beri tahu efek radiasi persisten 10 - 14 hari
sesudah pengobatan, dan melakukan perawatan kulit dan mulut.
Dalam terapi radiasi internal yang perlu
dipertimbangkan dalam perawatan umum adalah teknik isolasi dan membatasi
aktivitas, sedangkan dalam perawatan pre insersi antara lain menurunkan
kebutuhan untuk enema atau buang air besar selama beberapa hari, memasang kateter
sesuai indikasi, latihan nafas panjan dan latihan rom dan jelaskan pada
keluarga tentang pembatasan pengunjung. Selama terapi radiasi perawatannya
yaitu monior tanda - tanda vital tiap 4 jam. Memberikan posisi semi fowler,
berikan makanan berserat dan cairan parenteral sampai 300ml dan memberikan
support mental. Perawatan post pengobatan antara lain menghindari komplikasi
post pengobatan (tromboplebitis, emboli pulmonal dan pneumonia ), monitor
intake dan output cairan. (Bambang sarwiji, 2011)
a. Sitologi
Pemeriksaan ini yang dikenal sebagai tes
papanicolaous ( tes PAP ) sangat bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini,
tingkat ketelitiannya melebihi 90% bila dilakukan dengan baik. Sitologi adalah
cara Skrining sel - sel serviks yang tampak sehat dan tanpa gejala untuk
kemudian diseleksi. Kanker hanya dapat didiagnosis secara histologik.
b. Kolposkopi
Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan
menggunakan kolposkopi, suatu alat yang dapat disamakan dengan sebuah mikroskop
bertenaga rendah dengan sumber cahaya didalamnya ( pembesaran 6 - 40 kali). Kalau
pemeriksaan sitologi menilai perubahan morfologi sel - sel yang mengalami
eksfoliasi, maka kolposkopi menilai perubahan pola epitel dan vascular serviks
yang mencerminkan perubahan biokimia dan perubahan metabolik yang terjadi di
jaringan serviks.
c. Biopsi
Biopsi dilakukan didaerah abnormal jika
SSP (sistem saraf pusat ) terlihat seluruhnya dengan kolposkopi. Jika SSP tidak
terlihat seluruhnya atau hanya terlihat sebagian kelainan didalam kanalis serviskalis
tidak dapat dinilai, maka contoh jaringan diambil secara konisasi. Biopsi harus
dilakukan dengan tepat dan alat biopsy harus tajam sehingga harus diawetkan
dalam larutan formalin 10%.
d. Konisasi
Konosasi serviks ialah pengeluaran
sebagian jaringan serviks sedemikian rupa sehingga yang dikeluarkan berbentuk
kerucut ( konus ), dengan kanalis servikalis sebagai sumbu kerucut. Untuk tujuan
diagnostik, tindakan konisasi selalu dilanjutkan dengan kuretase. Batas jaringan
yang dikeluarkan ditentukan dengan pemeriksaan kolposkopi. Jika karena suatu
hal pemeriksaan kolposkopi tidak dapat dilakukan, dapat dilakukan tes Schiller.
Pada tes ini digunakan pewarnaan dengan larutan lugol ( yodium 5g, kalium
yodida 10g, air 100ml ) dan eksisi dilakukan diluar daerah dengan tes positif (
daerah yang tidak berwarna oleh larutan lugol ). Konikasi diagnostik dilakukan
pada keadaan -keadaan sebagai berikut :
1. Proses dicurigai berada di
endoserviks.
2. Lesi tidak tampak seluruhnya dengan
pemeriksaan kolposkopi.
3. Diagnostik mikroinvasi ditegakkan
atas dasar specimen biopsy.
4. Ada kesenjangan antara hasil sitologi
dan histopatologik. ( Prof. R Sulaiman , 2006 )
BAB
III ASUHAN KEPERAWATAN Ca. SERVIKS
Usia saat pertama kali melakukan
hubungan seksual Salah satu faktor yang menyebabkan kanker serviks ini adalah
menikah dibawah umur 18 tahun.
1. Perilaku seks berganti - ganti pasangan
Dengan perilaku tersebut kemungkinan
virus penyebab terjadinya kanker serviks dapat ditularkan dengan mudah.
2. Sosial Ekonomi
Sosial ekonomi rendah dikaitkan erat
karena tidak dapat melakukan pap smear secara rutin dan pola hubungan seksual
yang tidak sehat.
3. Tingkat pengetahuan
Tingkat pengetahuan yang rendah dapat
juga dihubungkan dengan kurangnya pemahaman mengenai pencegahan dan penaganan
kanker seviks.
4. Aspek mental: harga diri, identitas
diri, gambaran diri, konsep diri, peran diri, emosional.
5. Perineum; keputihan, bau, kebersihan
Keputihan yang gatal dan berbau adalah
tanda dari kanker leher rahim yang mulai mengalami metastase.
6. Nyeri ( daerah panggul atau tungkai )
Nyeri bisa diakibatkan oleh karena sel
kanker yang sudah mendesak dan abnor malita pada organ - organ daerah panggul.
7. Perasaan berat daerah perut bagian
bawah
Sel - sel kanker yang mendesak
mengakibatkan gangguan pada syaraf -syaraf disekitar panggul dan perut,
sehingga menimbulkan perasaan berat pada daerah tersebut.
8. Gaya hidup
Gaya hidup yang tidak sehat, seperti
makan - makanan cepat saji dapat memicu sel kanker untuk tumbuh dengan cepat,
pada orang – orang dengan gemar berganti - ganti pasangan dengan
mengesampingkan efek negatifnya kemungkinan besar dapat timbul gejala - gejala
tersebut sehingga mengarah pada terjadinya kanker leher rahim.
9. Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi yang tidak teratur
atau terjadi perdarahan diantara siklus haid adalah salah satu tanda gejala
kanker leher rahim.
10. Riwayat Keluarga
Seorang ibu yang mempunyai riwayat ca
serviks. (Doengoes,2005)
1.
Kepala
Ø Rambut : bersih, tidak ada ketombe, dan tidak rontok
Ø Wajah : tidak ada oedema
Ø Mata : Konjungtiva tidak anemis
Ø Hidung : simetris, tidak ada sputum
Ø Telinga : Simetris, bersih, tidak ada serumen
Ø Mulut : Bibir tidak kering, tidak sianosis, mukosa
bibir lembab, tidak terdapat lesi
Ø Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tiorid dan
tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
2.
Dada
Ø Inpeksi : Simetris
Ø Perkusi : sonor seluruh lap paru
Ø Palapasi : vocal fremitus simetri kanan dan kiri
Ø Auskultasi : vesikuler
3.
Cardiac
Ø Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Ø Palpasi : ictus cordis teraba
Ø Perkusi : pekak
Ø Auskultasi : tidak ada bising
4.
Abdomen
Ø Inspeksi : simetris dan tidak ascites
Ø Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Ø Auskultasi : Bising usus normal
5. Genitalia
Ø Ada lesi, adanya pengeluaran pervaginam, berbau
6. Ekstremitas
Ø Tidak oedema
1. Nyeri berhubungan dengan penekanan sel kanker
pada syaraf dan kematian sel.
2. Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah karena proses eksternal
Radiologi .
3. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan
pengeluaran pervaginam ( darah, keputihan ).
4. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang prosedur pengobatan.
5. Resiko tinggi kerusakan intergritas kulit
berhubungan dengan efek dari prosedur pengobatan.
6. Resiko injuri berhubungan dengan kelemahan dan
kelelehan.
7. Gangguan pola seksual berhubungan dengan
metaplasia penyakit.
8.
Resti terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
1.
Nyeri berhubungan dengan penekanan sel kanker pada syaraf dan kematian sel.
Tujuan : Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama nyeri hilang atau berkurang.
Kriteria : a. pasien mengatakan
nyeri hilang atau berkurang dengan skala nyeri 0- 3.
b.
Ekspresi wajah rileks.
c.
Tanda - tanda vital dalam batas normal.
Intervensi :
a. Kaji riwayat
nyeri, lokasi, frekuensi, durasi, intensitas, dan skala nyeri.
b. Berikan
tindakan kenyamanan dasar: relaksasi, distraksi, imajinasi, message.
c. Awasi dan
pantau TTV.
d.
Berikan posisi yang nyaman.
e. Kolaborasi
pemberian analgetik.
Rasional :
a. Mengetahui
tingkat nyeri pasien dan menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.
b. Mengurangi rasa
nyeri.
c. Mengetahui
tanda kegawatan.
d. Memberikan rasa
nyaman dan membantu mengurangi nyeri.
e. Mengontrol
nyeri maksimum.
2. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah karena
proses eksternal Radiologi .
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan status nutrisi dipertahankan untuk memenuhi
kebutuhan tubuh.
Kriteria hasil :
a. Pasien menghabiskan makanan
yang telah diberikan oleh petugas.
b. Konjungtiva tidak anemis,
sclera tidak ikterik.
c. Berat badan klein normal.
d. Hasil hemoglobin dalam batas
normal.
Intervensi :
a. Kaji status
nutrisi pasien
b. Ukur berat
badan setiap hari atau sesuai indikasi.
c. Dorong Pasien
untuk makan - makanan tinggi kalori, kaya protein dan tetap sesuai diit (
Rendah Garam).
d. Pantau masukan makanan setiap
hari.
e. Anjurkan pasien makan sedikit
tapi sering.
Rasional :
a. Untuk mengetahui status
nutrisi
b. Memantau peningkatan BB.
c. Kebutuhan jaringan metabolik
adequat oleh nutrisi.
d. Identifikasi defisiensi nutrisi.
e. Agar nutrisi terpenuhi
3.
Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan pengeluaran pervaginam ( darah,
keputihan ).
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan jam pasien tidak terjadi penyebaran infeksi dan
dapat menjaga diri dari infeksi .
Kriteria hasil :
a. Tidak ada tanda
- tanda infeksi pada area sekitar serviks
b. Tanda - tanda
vital dalam batas normal.
c. Tidak terjadi
nasokomial hilang, baik dari perawat ke pasien, pasien keluarga, pasien ke
pasien lain dan klien ke pengunjung.
d. Tidak timbul
tanda - tanda infeksi karena lingkungan yang buruk
e. .Hasil
hemoglobin dalam batas normal, dilihat dari leukosit.
Intervensi :
a. Kaji adanya infeksi disekitar
area serviks.
b. Tekankan pada pentingnya
personal hygiene.
c. Pantau tanda - tanda vital
terutama suhu.
d. Berikan perawatan dengan
prinsip aseptik dan antisepik.
e. Tempatkan klien pada
lingkungan yang terhindar dari infeksi.
f. Koloborasi pemeberian
antibiotik.
Rasional :
a. Mengurangi terjadinya infeksi.
b. Agar tidak terjadi penyebaran
infeksi.
c. Mencegah terjadinya infeksi.
d. Membantu mempercepat
penyembuhan.
e. Mencegah terjadinya infeksi.
4.
Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang prosedur pengobatan.
Tujuan : Setelah dilakukan
tindakan keperawatan kecemasan hilang atau berkurang.
Kriterial hasil :
a. Pasien
mengatakan perasaan cemasnya hilang atau berkurang.
b. Terciptanya
lingkungan yang aman dan nyaman bagi pasien.
c. Pasien tampak
rileks, tampak senang karena mendapat perhatian.
d. Keluarga atau
orang terdekat dapat mengenai dan mengklarifikasi rasa takut.
e. Pasien mendapat
informasi yang akurat, serta prognosis dan pengobatan dan klien mendapat
dukungan dari terdekat.
Intervensi :
a. Dorong pasien
untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
b. Beri lingkungan
terbuka dimana pasien merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak
untuk bicara.
c. Pertahankan
bentuk sering bicara dengan pasien, bicara dengan menyentuh klien.
d. Bantu pasien
atau orang terdekat dalam mengenali dan mengklarifikasi rasa takut.Beri
informasi akurat, konsisten mengenai prognosis, pengobatan serta dukungan orang
terdekat.
Rasional :
a. Memberikan kesempatan untuk
mengungkapkan ketakutannya.
b. Membantu mengurangi kecemasan.
c. Meningkatkan kepercayaan
klien.
d. Meningkatkan kemampuan kontrol
cemas.
e. Mengurangi kecemasan.
5.
Resiko tinggi kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan efek dari prosedur
pengobatan.
Tujuan : Setelah dilakukan
tindakan keperawatan tidak terjadi kerusakan intergritas kulit.
Kriteria hasil :
a. Pasien atau
keluarga dapat mempertahankan keberhasilan pengobatan tanpa mengiritasi kulit.
b. Pasien dan
keluarga dapat mencegah terjadi infeksi atau trauma kulit.
c. Pasien keluarga
beserta TIM medis dapat meminimalkan trauma pada area terapi radiasi.
d. Pasien,
keluarga beserta tim medis dapat menghindari dan mencegah cedera dermal karena
kulit sangat sensitif selama pengobatan dan setelahnya.
Intervensi :
a. Mandikan dengan
air hangat dan sabun ringan.
b. Dorong pasien
untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit yang kering dari pada menggaruk.
c. Tinjau protokol
perawatan kulit untuk pasien yang mendapat terapi radiasi.
d. Anjurkan
memakai pakaian yang lembut dan longgar pada, biarkan pasien menghindari
penggunaan bra bila ini memberi tekanan.
Rasional :
a. Mempertahankan kebersihan
kulit tanpa mengiritasi kulit.
b. Membantu menghindari trauma
kulit.
c. Efek kemerahan dapat terjadi
pada terapi radiasi.
d. Meningkatkan sirkulasi dan
mencegah tekanan pada kulit.
6.
Resiko injuri berhubungan dengan kelemahan dan kelelehan.
Tujuan : Setelah dilakukan
tindakan keperawatan tidak terjadi cedera atau injuri.
Kriteria hasil :
a. Pasien dapat meningkatkan
keamanan ambulasi.
b. Pasien mampu menjaga
keseimbangan tubuh ketika akan melakukan aktifitas.
c. Pasien mampu meningkatkan
posisi fungsional pada ektremitas.
Intervensi :
a. Intruksikan dan
bantu dalam mobilitas secara tepat.
b. Anjurkan untuk
berpegangan tangan atau minta bantuan pada keluarga dalam melakukan suatu kegiatan.
c. Pertahankan posisi tubuh tepat
dengan dukungan alat bantuan.
Rasional :
a. Membantu mengurangi kelelahan.
b. Membantu pasien untuk
melakukan kegiatan.
c. Membantu mempercepat
penyembuhan.
7.
Gangguan pola seksual berhubungan dengan metaplasia penyakit.
Tujuan : Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama pasien mampu mempertahankan aktifitas
seksual pada tingkat yang diinginkan bila mungkin.
Kriteria hasil :
a. Pasien mampu memahami tentang
arti seksualitas, seksualitas dapat diungkapkan dengan bentuk perhatian yang
diberikan seseorang.
Intervensi :
a. Kaji masalah-
masalah perkembangan daya hidup.
b. Catat pemikiran
pasien/ orang- orang yang berpengaruh bagi pasien mengenai seksualitas
c. Evaluasi
faktor- faktor budaya dan religius/ nilai dan konflik- konflik yang mucul berikan
suasana yang terbuka dalam diskusi mengenai masalah seksualitas.
d. Tingkatkan
keleluasaan diri bagi pasien dan orang- orang yang penting bagi pasien.
Rasional :
a. Faktor- faktor
seperti menoupose dan proses penuan remaja dan dewasa awal yang perlu masukan
dalam pertimbangan mengenai seksualitas dalam penyakit yang perawatan yang
lama.
b. Untuk
memberikan pandangan bahwa keterbatasan kondisi/ lingkungan akan berpengaruh
pada kemampuan seksual tetapi mereka takut untuk menanyakan secara lansung.
c. untuk
mempengaruhi persepsi pasien terhadap masalah seksual yang muncul.
d. Apabila
masalah- masalah diidentifikasikan dan di diskusikan maka pemecahan masalah
dapat ditemukan
e. Perhatikan
penerimaan akan kebutuhan keintiman dan tingkatkan makna terhadap pola
interaksi yang telah dibina
8.
Resti terjadinya syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
Tujuan : Setelah dilakukan
tindakan keperawatan syok berkurang atau tidak terjadi syok.
Kriterial hasil :
a. pasien tidak mengalami anemia
b. Tanda - tanda vital stabil.
c. Pasien tidak tampak pucat.
Intervensi :
a. Kaji adanya tanda terjadi syok
b. Observasi KU
c. Observasi TTV
d. Monitor tanda pendarahan
e. Check hemoglobin dan
hematokrit
Rasional
:
a. Mengetahui
adanya penyebab syok
b. Memantau
kondisi pasien selama masa perawatan terutama pada saat terjadi pendarahan
sehingga segera diketahui tanda syok.
c. TTV normal
menandakan keadaan umum baik.
d. perdarahan
cepat diketahui dapat diatasi sehingga pasien tidak sampai syok.
e. Untuk
mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagai acuan
melakukan tindakan lebih lanjut. (Doengoes, 2005)
Kanker
serviks adalah pertumbuhan sel yang abnormal yang terdapat pada organ
reproduksi wanita yaitu serviks atau bagian terendah dari rahim yang menempel
pada puncak vagina. Penyebab terjadinya kelainan pada sel -
sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor
resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks yaitu : HPV ( Human
Papiloma Virus ), Merokok, Hubungan
seksual pertama dilakukan pada usia dini ( kurang dari 18 tahun), Berganti - ganti pasangan seksual, Suami atau pasangan seksualnya melakukan
hubungan seksual pertama pada usia 18 tahun,
berganti-berganti pasangan dan pernah menikah dengan wanita yang
menderita kanker serviks, Pemakaian DES ( Diethilstilbestrol ) pada wanita
hamil untuk mencegah keguguran dan Pemakaian Pil KB.
Bagi mahasiswa/I keperawatan diharapkan
dapat mengerti konsep Ca.Serviks serta dapat melaksanakan asuhan keperawatan
sesuai dengan procedure yang ada.
Hinchliff, S. 1999. Kamus
Keperawatan. Edisi 17. EGC. Jakarta
Doengoes, Marylynn,
dkk. 1999.Rencana Asuhan keperawatan Edisi3.Volume2.Jakarta:EGC
Price, Sylvia. 2002.
Patofisiologi konsep klinis Proses-proses Penyakit, Edisi 6. Volume 2. Jakarta
: EGC
Santosa, Budi. 2005.
Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA, Jakarta : Prima Medika
